
Sebuah SMS muncul dan mengejutkanku
saat kongkow di warung kopi langganan, Jopok. Sudah menjadi kebiasaan bagiku
menghabiskan sebagian 24 jam untuk duduk dan serawungan di Jopok, walau
seringnya ngerasani. Mulai dari yang sepele hingga permasalahan elit di
negeri ini. Semua kami tumpah ruahkan di atas meja persegi empat bersama kopi,
Jopok.
Nada dering singkat berbunyi,
sepertinya familiar sekali suara itu. Kutenggok Hpku yang retak membentuk tiga
garis menyebar, vertikal dan horizontal tepat di tengah layarnya. Meski sering
jatuh dari pelukakanku, hp ini tampak selalu kuat dan tegar. Baru kali ini dia
luka, mungkin dia protes dan lelah hingga berani melukai dirinya, sebagai
bentuk protes terhadapku.
Satu pesan diterima, ujar Hpku.
Seakan masih tetap setia melayaniku meski dalam luka. Cepat kubuka SMS itu.
“Jangan lupa, tanggal 26 jadwal kamu menulis cerpen.” Asemm, ujarku dalam hati.
Ini pasti Si-penadah tulisan. Benar dugaanku, dia, Semar. Pesan itu tak segera
aku balas agar keamanan diriku terjaga dari terornya.




