
Nahdlatul
Ulama, Nahdlatul Ulama, dan Nahdlatul Ulama. Dalam ilmu nahwu, pengulangan kata
adalah salah satu bentuk taukid (penegasan) ketika seseorang ingin mempertegas
apa yang ingin dia sampaikan. Di kalangan pesantren tak asing dengan istilah
ini. Bahasa familiar, pengulangan berupa lafadz seperti ini disebut taukid
lafdzi. Sesuai dengan fungsinya, taukid berarti membuang keraguan, menghindari
bias atau membuang skeptisme yang muncul pada mukhotob (pendengar).
Mohon maaf, saya tidak sedang memberikan pelajaran tentang nahwu. Tapi hanya
ingin memperjelas bahwa saya cinta Nahdlatul Ulama.
Berbicara
tentang Nahdlatul Ulama tak bisa dipisahkan dengan sosok Hadratussyaikh – KH.
Wahab Hasbullah – KH. Bisri Syansuri. Tiga serangkai Jombang yang memplopori
Jamiah Islam terbesar di Indonesia, NU. Menyadur ucapan Sang Kiai “Siapa yang
mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku. Saya
doakan husnul khatimah beserta anak-cucunya.” Rasa cinta itu pula yang
membentuk harmoni antara ketiga tokoh itu. Termasuk di dalamnya sikap Tawadhu’
satu sama lainya.
Hadratussyaikh
adalah guru Kiai Wahab dan Kiai Bisri.
Ketiga tokoh ini hampir selalu bersama dalam berbagai hal. Mengaji bersama,
membahas komite hijaz bersama-sama. Bahkan sebelum NU resmi berdiri secara
ideologi mereka memiliki visi dan misi yang sama. Terbukti di dokumen pendirian
sirkatul inan tahun 1916 sudah tercantum nama-nama beliau. Kala itu
memakai nama H. Muhammad Hasyim Asy’ari, H. Abdul Wahab Chasbullah, dan H.
Bisri Syansyuri. Hal ini memperjelas bahwa kombinasi tiga serangkai ini sudah
eksis bahkan sebelum NU dilahirkan.
Mengutip Gus
Mus, tiga serangkai ini mengingatkan pada Rasulallah dan dua muridnya Abu Bakar
dan Umar bin Khattab. Jika ditelisik lebih dalam Mbah Wahab dengan
kelenturannya dan Mbah Bisri dengan ketegasannya hampir tidak pernah
sependapat. Hal ini dipengaruhi oleh metode pendekatan tokoh Dwi Tunggal
tersebut. Mbah Wahab kerap menggunakan pendekatan ilmu ushul fiqh, sehingga
kelenturannya sangat terlihat. Mbah Wahab menggunakan kaidah, bukan menggunakan
teks. Sedangkan Mbah Bisri lebih suka menggunakan teks karena lebih hati-hati.
Fakta yang
lebih jelas adalah perbedaan pendapat dua tokoh itu tentang Bank. Dalam
persoalan Bank itu ada halal dan haram. Haram adalah bentuk kehati-hatian Mbah
Bisri dan yang halal adalah kelenturan Mbah Wahab. Meskipun ada hukum syubhat,
itu hanya sebagai penengah saja. Hakikatnya hanya ada halal dan haram. Itulah
sebabnya dalam hasil muktamar NU sering kita temui fihi qoulani.
Suatu ketika
Gus Dur pernah bercerita tentang watak kedua tokoh itu yang bertolak belakang
tentang Dewan Perwakilan Rakyat – Gotong Royong (DPR-GR) bentukan Soekarno yang
merekrut banyak orang. Mbah Wahab memperbolehkan DPR-GR. Jika nanti dirasa
tidak cocok, maka bisa keluar dan tidak ikut model sistem tersebut. Namun bagi
Mbah Bisri, hal itu tetap tidak bisa, haram hukumnya.
Lebih jauh
lagi, Mbah Wahab dan Mbah Bisri sering berbeda pendapat dalam Bahtsu Masail.
Bahkan sampai ngedor-ngedor bangku. Tapi hal itu hanya ketika di dalam
forum. Ketika istirahat seakan tidak terjadi perbedaan sama sekali. Bahkan
rebutan nimba. Jika Mbah Bisri yang berhasil meraih timba dulu maka Mbah
Wahab yang dilayani, begitu sebaliknya, maka Mbah Wahab yang melayani.
Memberikan pelayanan wudhu kepada satu sama lain adalah bentuk takdzim dan
cinta pada sahabatnya.
Harmoni antara
Mbah Wahab dan Mbah Bisri seperti sebuah magnet yang bertolak belakang dan
sekaligus saling tarik menarik. Berbeda pendapat (utara dan selatan) tapi di
saat yang lain saling takdzim dan tawadlu’. Mengutip arti tawdlu dari Hasan al-Bashri, dia menjawab ketika
ditanya oleh muridnya tentang arti tawadlu’, “Seorang keluar dari rumahnya,
maka ia tidak bertemu seorang Muslim, kecuali mengira bahwa yang ditemui itu
lebih baik dari dirinya.
Para pemimpin
NU mestinya meniru sikap dua tokoh teladan itu. Mereka adalah orang yang tawadlu’
meski telah memiliki pangkat tinggi. Rivalitas bukan perkara utama sebagai
alasan untuk berebut jabatan. Ketika Hadratussyaikh menjadi Rois Akbar NU,
menjadi apakah Mbah Wahab ketika itu? Apa Wakil Rois? Atau Rois ketiga atau
keempat? Tidak. Beliau menempatkan dirinya sebagai katib (sekretaris). Mbah
Bisri menjadi apa? Beliau menempatkan dirinya sebagai A’wan (anggota). Hal ini
menjadi arsip sejarah bagaimana ketawadlu’an para kiai-kiai zaman dahulu.
Sekaligus menjadi kaca sejarah bagi para pemimpin NU yang lebih mementingkan
rivalitas daripada ketakdziman.
Baru setelah
Hadratussyaikh wafat, Mbah Wahab mau menerima jabatan Rois Aam, bukan Rois
Akbar. Karena menurut beliau, yang pantas menyandang gelar dan jabatan Rois
Akbar hanya KH. Hasyim Asya’ari. Hal serupa juga diterapkan oleh Mbah Bisri
saat dicalonkan menjadi Rois Aam. Ketika itu Mbah Wahab sudah udzur dan hampir
tidak bisa apa-apa. Maka para Muktamirin mencalonkan Mbah Bisri karena merasa
kasihan dengan Kiai Wahab jika dibebankan tanggung jawab tersebut. Lantas Mbah
Bisri meraih microphone, “Selama Kiai Wahab masih hidup, saya hanya siap untuk
menjadi wakilnya”.
The Founding
Fathers NU memahami betul nasihat Imam al-Ghazali dalam kitab Maraqi
al-Ubudiyah, “Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu, ‘ia
belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak
diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku. ‘Jika engaku melihat orang yang
lebih tua katakanlah, ‘Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak
diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku. ‘Jika melihat orang alim, katakan
pada, ‘Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana
aku setara denganya. ‘Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu, ‘Orang ini
bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu.
Menjelang
Muktamar NU ke-33 impian dibebankan kepada mereka yang akan menjadi The Next
Leader. Harapanya pemimpin-pemimpin NU mampu mengambil nilai-nilai sejarah
ketawadluan para muassis NU ketika berhadapan dengan sebuah jabatan.
Bukan rivalitas yang berujung pada praktik KKN dan riswah tapi
ketawadluan sebagai upaya menjaga marwah Nahdlatul Ulama. Wallahu ‘alam bis
Showab.
*MSP
No comments:
Post a Comment