
Imamuna as-Syafii (Rahimahullah) setidaknya pernah mengeluhkan dua hal
dalam hidupnya. Pertama, kesukaaran (Difficulty) dalam menghafal yang
kemudian dikonsultasikan pada guru spiritualnya, Imam Waqi’. Untuk mencapai
derajat kesempurnaan dalam menghafal tinggalkanlah maksiat. Ucap imam Waqi’
pada Imam Syafii (Syakautu ilal Waqi’ an Suui Hifdzi wa Arsyadani ilaa
Tarkil Ma’ashii).
Kegundahan Imam Syafii terbantah! Orang Barat atau Western People,
kenapa dalam ranah keilmuan lebih progresif dan unggul padahal mereka setia
pada kemaksiatan ketimbang para santri yang senantiasa merawat dirinya dengan
tirakat, wirid dan semacamnya? Jawabannya adalah satu, bahwa usaha lahiriyah
orang barat lebih serius dan intens ketimbang para santri yang lebih banyak
bersantai ria dan hanya menggandalkan usaha spiritualitas lalu berharap ketiban
ilmu laduni tanpa perlu menelaah keilmuan dengan khusyuk.
Bahwa perbandingan itu secara adil bisa disandingkan dengan kejeniusan
orang barat dengan catatan, santri ini
sama-sama menelaah keilmuan secara intens dan serius serta menjaga ‘afifah jiwanya.
Tentu dan pasti, kemajuan dan kesuksesan didapat si-santri tersebut, niscaya.
Kedua, kegelisahan
dirinya dalam minimnya derajat kebaktian diri pada Allah SWT. Dalam hal ini,
Imam Syafii tidak mengkonsultasikan pada gurunya lagi namun membuat formulasi
standar kebaikan. Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia
orang yang celaka. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia orang yang
rugi. Dan siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, sesungguhnya dia orang
yang beruntung.
Saya mohon para hadirin untuk tidak terlalu cepat menilai atau salah
paham. Saya ingin berkomentar perihal yang terbaik. Pertama, Al-Qaeda
yang dipimpin oleh Osamah bin Laden dengan segala kekakayaanya dan
keseriusannya membela Islam dengan berani menyewa pesawat untuk menghantam
gedung WTC (World Trade Center) di Amerika. Sebagai peringatan atas kebuasan
buta negara Adi Kuasa itu terhadap Palestina. Mereka tidak hanya
membunuh tentara Palestina saja. Ayah, ibu, anak kecil tanpa dosa dibantai
habis-habisan. Bahkan wilayah Palestina turut direngut.
Dengan dalih toleransi dan HAM, kita sangat ramah pada pemeluk agama
lain. Bersanding bak saudara rahim dan memuliakan mereka setinggi-tingginya,
tajam ke dalam tumpul ke luar. Lantas kenapa kita terdiam saat saudara muslim
kita dibinasakan tanpa ampun di tanah Palestina? Bukankah pembunuhan massal
seperti itu telah melanggar HAM dan toleransi? Ketika penembakan redaksi
Charlie Hebdo, hampir 3 presiden negara Eropa menghujat Islam, termasuk Obama. Tapi kenapa
tak ada yang membela saat Palestina dibombardir tanpa ampun, lebih-lebih Obama?
Mungkin menurut tinjauan manusia al-Qaeda kaum radikalis dan bengis tapi
belum tentu di mata Tuhan mereka sama seperti apa yang kita pikirkan. Dalam
tinjauan keimanan, manakah yang terbaik mereka yang bereaksi nyata atau kita
yang terdiam membisu?
Kedua, Jamaah Tabligh.
Berkelana dari satu masjid ke masjid lain. Saya tahu benar kekurangan jamaah
Tabligh, setidaknya mereka punya aksi faktual dengan mengajak masyarakat sholat
berjamaah di masjid-masjid dan musholla. Mereka menghimbau untuk turut serta
menjejakkan kakin menuju rumah Allah hanya untuk ta’abbud bersama. Selebihnya
terserah mereka, mau berqunut atau tidak, shalat sunnah atau tidak, membaca
ayat iftitah silahkan, terserah. Hal yang terpenting mereka mau shalat di masjid atau mushalla.
Sekali lagi kita mengambil sisi yang terbaik saja. Jika mereka
(red-Jamaah Tabligh) rela, sanggup melakukan amar ma’ruf seperti itu bagaimana
dengan kita. Hirau tetangga kanan-kiri, apakah kita pernah meloncat pagar
tetangga lalu mengetuk pintu mereka hanya untuk bertanya “apakah sudah
shalat?”. Kiai, ustadz, guru sekalipun memilih apatis dan bungkam pada hal yang
sepele seperti itu.
Ketiga, perspektif
negatif sering kali muncul di benak masyarakat manakala melihat wanita
bercadar. Sok suci, teroris, aneh, asing dan seterusnya tumbuh di pikiran saat
melihat wanita berburqa. Sekarang silahkan lihat kitab Fathul Qarib!
Aurat wanita diluar shalat adalah seluruh bagian tubuh selain wajah dan telapak
tangan. Kita mafhum menutup aurat adalah perintah Tuhan dan wajib hukumnya.
Siaran entertainment di telivisi kerap nongkrong di tangga rating
tertinggi. Artinya, tayangan yang menyajikan gemerlap dan hiburan menjadi
konsumsi favorit mayoritas masyarakat kita. Dangdut adalah salah satunya.
Tarian erotis, tari pinggul, goyang payudara dan semacamnya menjadi sajian khas
untuk menumbuhkan syahwat birahi dalam jiwa manusia. Tak mengherankan apabila
dangdut tumbuh subur karena viewers melonjak naik setiap waktunya.
Mohon maaf, saya juga pernah mengkaji fiqih. Dalam kajian fiqih
sebuah lukisan farji saja, tidak dihukumi haram karena tidak mengambarkan tubuh
manusia atau hukum mubah melihat aurat melalui pantulan kaca. Fiqih semacam ini
adalah fiqih mentah tanpa bumbu moralitas, meskipun tercantum dalam kitab-kitab
tersebut. Saya harap masyarakat tidak mengaplikasikan hukum yang minus terhadap
moralitas.
Larangan melihat dangdut sudah saya dengungkan pada keluarga. Saya sudah
sampai pada ijtihad final bahwa dangdut hukumnya haram. Jangan sekali-kali
melihat dangdut! Minimal larangan itu saya sampaikan pada keluarga karena
menjaga diri dan keluarga adalah prioritas utama dan pertama untuk hidup lebih
maslahah. Kebanyakan tidak ada televisi dirumah Jamaah Tabligh. Mafsadah lebih
besar mengemuka daripada maslahah dari kotak hitam berlayar itu.
Para hadirin yang saya hormati, cukup melarang keluarga kita untuk
menyaksikan dangdut erotis. Andaikan seluruh keluarga kita mampu untuk tak
menyaksikan acara dangdut semacam itu, bisa dipastikan rating perhelatan
dangdut akan mengalami collapse sampai kehilangan sponsor dan akhirnya bangkrut.
Sekali lagi semoga ini menjadi bahan renungan bersama. Wallahu 'alam bi
as-Showab.
*Khutbah Dr. KH. Mustain Syafii, Jumat, 10 April 2015 dan sedikit Adendum.
No comments:
Post a Comment