
Tradisi tawadlu’ adalah
sifat yang diwariskan kuat oleh para ahlul ilmi yang bertranmisi dari
Baginda Rosul shallohu alaihi wassalam. Hal ini menjadi salah satu ciri
khas yang dimiliki oleh the founding fathers Nahdlatul Ulama, bahkan sampai
kepada jamaahnya. Kita sering mendengar bahwa para Kiai NU itu sangat tawadlu’.
Bahkan untuk urusan jabatan (para kiai terdahulu) berebut menolak dan
mengutamakan orang lain.
Jika kalian pernah mondok di
sebuah pesantren tentunya tidak asing dengan ucapaan Wallahu a’alam bis
showab. Kepalang suka ketika mendengar untaian kata itu terlontar dari qori’
atau ustadz atau kiai. Itu menjadi pertanda bahwa pengajian usai.
Wallahu a’alam bis showab
mempunyai arti “dan hanya Allah yang mengetahui kebenaran”. Sekilas hanya ungkapan biasa. Tapi muncul makna yang kuat. Adigium pamungkas itu berarti sangat mendalam, yang mungkin tak banyak orang sungguh memahaminya. Yaitu
ketawdlu’an.